Titik Lemah Bangsa ini adalah DPR

Rapat paripurna DPR
Rapat paripurna DPR

Romihardi.com РBanyak masyarakat menilai DPR tidak menggerakkan tugasnya, dari 37 RUU yang masuk, kurang dari 5 yang rampung, walaupun tujuan nya  yaitu 22 UU dalam satu tahun (16 Sept. 2015). Beberapa orang malahj katakan : Memalukan! Namun Setya Novanto, Ketua DPR membela diri bahwa mereka telah berusaha keras ( baca :Setya Novanto Layak Jadi Bapak Bangsa Indonesia dan Pahlawan Nasional), akhirnya yaitu 42 sidang paripurna sepanjang satu tahun ini. Jikalau kita ingin tutup mata pada masalah selfie Setya Novanto serta Fadli John dengan Donald Trump yang dikira banyak pihak juga sebagai memalukan, masih ada ribut-ribut masalah kenaikan tunjangan, malah saat keadaan ekonomi bangsa tengah susah.

Namun sebagaimana tidak senang dengan reputasinya yang memanglah telah jelek, Setya Novanto kembali terbelit pro-kontra ” ayah Minta saham. ” Transkrip pembicaraan menunjukkan SN serta R meng-klaim bahwa merekalah kunci kesuksesan Freeport. Meskipun 3 lembar transkrip pembicaraan telah dengan gampang di baca di media, Setya Novanto terus menyanggah sudah mencatut nama presiden. Ironisnya, Setya Novanto mungkin saja saja terus tidak tersentuh hukum, lantaran delik penipuan serta pencemaran nama baik mensyaratkan ada pengaduan dari pihak yang dirugikan.

Fadli Zon berujar bahwa pertemuan dengan entrepreneur serta siapapun hal umum untuk anggota DPR. Tetapi rekaman perbincangan yang diputar di acara Mata Najwa memanglah bicara masalah penawaran private jet (13 : 30) untuk kelancaran proyek.

Mayarakat serta media sosial nampaknya telah jemu dengan tingkah Setya Novanto. Petisi untuk memecat Setya Novanto dengan cepat di tandatangani kian lebih 70 ribu netizen. Namun Setya Novanto jadi terlihat bakal menjaga jabatannya. Walaupun anggota DPR lain yang telah gerah akan mulai menggalang mosi tak yakin pada Setya Novanto.

Namun pasti ada pertanyaan pekerjaan rumah yang perlu kita pikirkan bersama sebagai rakyat Indonesia. Kenapa seorang sebagaimana Setya Novanto bisa duduk di DPR (dengan kawan-kawan karib koalisinya), serta malahan jadi ketua DPR? Tidakkah rakyat juga yang mendudukkan ia disana? Bila ya, ada pelajaran super utama untuk kita supaya hal sejenis ini tidak terulang lagi!

Saya teringat begitu aspek agama jadi permainan kampanye panas tahun lalu. Kenapa kita dengan gampang termakan kampanye agama, walaupun rekam jejak pekerjaan seorang pas gampang tampak? Tidak heran Cak Nur dahulu berpidato masalah desakralisasi : Islam yes, politik Islam no! Terlampau gampang agama jadi permainan politik. Cak Nur dalam bijaksananya sesungguhnya memprioritaskan tawhid. Janganlah mensakralkan hal yang tak semestinya sakral sebagaimana politik! Cuma Tuhan yang perlu disembah! Bukanlah jabatan pimpinan, bukanlah posisi politik apa pun!

Tetapi hari ini kita mesti bertemu dengan masalah Setya Novanto. Semoga MKD DPR juga tak tidak berhasil dalam evaluasi pengambilan ketentuan yang pas serta tidak cuma pilih main aman. Bila tak, DPR selalu jadi titik lemah bangsa ini.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *