Apakah Pancasila Masih “Sakti” ?

Pancasila Sakti
Pancasila Sakti

Dalam negara penganut demokrasi sebagaimana perihal di Indonesia, memanglah ketika ini memanglah boleh-boleh saja berkembang beragam jenis ideologi. Ideologi untuk umumnya memang lah jadi hal yang fundamental, lantaran hal semacam itu bakal merujuk pada tata cara serta pojok pandang serta lakukan tata nilai dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kehadiran Pancasila sendiri juga sesungguhnya adalah sisi dari bentuk beberapa pendiri bangsa ini dalam mengakomodasi kebutuhan proses ideologi oleh beragam susunan orang-orang. Sila pertama sampai kelima yaitu cerminannya. Dengan hal tersebut, pancasila dapat dikira sebagai hasil perjanjian, serta juga jadi falsafah kehidupan dalam berbangsa serta bernegara.

Dalam perjalanannya, Pancasila seringkali merasakan tantangan yang tak gampang. Mulai dari pemberontakan-pemberontakan DI/TII, NII, RMS, Kudeta PKI, serta lain sebagainnya. Upaya-upaya degradasi Pancasila itu dilihat sebagai usaha yang dikerjakan oleh mereka-mereka penganut ideologi spesifik dalam memaksakan kehendaknya.

Pada zaman pemerintahan Orde Baru juga, sejatinya pancasila alami penghianatan. Pancasila sebagai suatu falsafah, fungsinya dicampakkan serta cuma dikira sebagai alat kekuasaan untuk memaksakan kehendak untuk menjaga kekuasaan. Pancasila sebagai suatu substansi serta tuntunan dalam melakukan kehidupan berbangsa serta bernegara tak dikerjakan seperti manfaat serta maksud awalannya, malah pancasila dipaksakan sebagai suatu berhala dengan dalih pemurnian ajaran Pancasila.

Pancasila kembali memperoleh tantangan berat saat orde reformasi dicetuskan. Kehadiran Pancasila sebagai landasan hidup dalam berbangsa serta bernegara dicampakkan demikian saja. sedangkan beberapa intelektual serta golongan aktivis yang sepanjang masa orde baru dibungkam serta ketakutan untuk menebarkan ideologinya dengan cara terang-terangan memperoleh angin sejuk.

Mereka yang pada awal reformasi menyatu padu menggulingkan orde baru, lalu mesti berbenturan pada keduanya untuk memaksakan dampak ideologinya. Golongan Kapitalis, Fundamentalis, Sosialis, malahan Komunis diam-diam juga mulai dengan cara terbuka berani merangsek serta bergerilya bangun komunitasnya semasing.

Sepanjang lebih kurang 17 tahun lamanya, semenjak reformasi 1998 bangsa Indonesia belum juga temukan arah yang terangnya. Beberapa politisi, akademisi, aktivis gerakan, serta lain sebagainya terlampau repot bergelut dengan komunitasnya semasing. Serta aktivitas mereka kembali tersita dengan pertarungan antar beragam grup elemen bangsa untuk berebut keluasaan.

Kembalikan Pancasila “Sakti”

Kehadiran Pancasila sebagai sebentuk fisik simbol ternyata memanglah masih ada, tetapi dalam substansinya sebagai suatu falsafah yang mengatur pranata nilai-nilai dalam proses etika kehidupan berbangsa serta bernegara hampir tidak ada.

Dalam pergaulan kehidupan kita sampai kini hampir berperilaku bukanlah sebagaimana bangsa Indonesia yang kita kenal. Di antara kita semasing telah lepas kendali dalam hal toleransi, tetapi malah sikap perorangan serta grup lebih ditonjolkan. Tidak sering kita temui dalam pengambilan suatu ketentuan utama, baik pada level orang-orang ataupun negara yang menyangkut hajat hidup orang banyak telah tak menghiraukan azas musyawarah untuk meraih mufakat, serta demikian sebaliknya lebih memercayakan kemampuan individu serta grup berbentuk voting/penentuan nada paling banyak.

Ruh sila-sila yang termaktub dalam sila Pertama sampai ke lima sudah jauh kita tinggalkan. Azas Ketuhanan yang kita letakkan pada sila Pertama ternyata juga kita sudah abaikan. Aksi korupsi, kolusi, nepotisme, serta beragam bentuk kejahatan yang lain yang ketika ini terangnya merajalela yaitu bukti bahwa kita meninggalkan kehadiran Tuhan. Beragam bentuk kejahatan yang kita kerjakan, baik itu dalam kerangka politik, hukum, budaya, ekonomi, serta lain sebagainya kita anggap umum saja tidak ada rasa berdosa. Begitupun sila-sila yang lain yang terangnya kita hianati tidak ada rasa penyesalan.

Sebagai bangsa yang mengakui mempunyai kepribadian ketimuran, serta yang menghormati budaya bangsa, semestinya kita mempunyai prinsip kuat dalam berbegang teguh pada konsensus bersama beberapa pendiri bangsa. Sikap legowo serta kebersamaan beberapa pendiri bangsa untuk lihat bangsa Indonesia dalam presfektif pancasila harusnya difahami sebagai sikap yang mulia.

Pancasila mesti kita letakkan sebagai suatu falsafah kehidupan bersama, bukanlah sekedar hanya sebagai lambang atau simbol. Kehadiran pancasila sebagai pandangan hidup yang posisinya di atas nilai-nilai ideologi kelihatannya mesti dikembalikan posisinya seperti harusnya. Tak semestinya Pancasila diletakkan dengan cara sejajar dengan jenis ideologi-idelogi yang ada di sekitar kita, lantaran pancasila sendiri yaitu sebentuk konsensus bersama pada beragam elemen ideologi, yang disetujui untuk digerakkan bersama.

DalamĀ  peringatan hari kesaktian pancasila yang jatuh 1 Oktober ini kita peringati berbarengan, sebaiknya kita coba lakukan refleksi dengan cara berbarengan serta kembali mengagas pancasila sebagai suatu tuntunan hidup, serta bukan hanya simbol tanpa ada arti.

Selamat hari Kesaktian Pancasila

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *